Bila dibanding dengan ibadah lainnya dalam Islam, ibadah haji bisa dibilang sebagai ibadah yang berat, sebab ia melibatkan seluruh kemampuan yang dimiliki seseorang, mulai perjuangan, pengorbanan, keikhlasan, fikiran, hati, tenaga, harta, waktu, dsb, karena itu ia ditempatkan sebagai rukun Islam yang terakhir, sebagai penyempurna kemusliman seseorang. Maka itu tidak heran bila Rasul saw menegaskan “Barang siapa berhajji ke Baitulloh lalu tiada berbuat buruk dan tidak berbuat fasik, maka keluarlah dia dari semua dosanya seperti hari dia dilahirkan oleh ibunya”.

Disebut sebagai penyempurna kemusliman seseorang, karena haji merupakan gerakan hijratun nafs “Warruj’a fahjur” yakni gerakan hijrah dari kebatilan menuju kebaikan, maka pasca haji, yang bersangkutan betul-betul menjadikan dirinya lebih baik dari sebelumnya dalam semua aspeknya. Inilah yang disebut haji mabrur, yakni haji yang pelaksanaannya tidak dinodai oleh dosa, sehingga maqbul (diterima) oleh Allah swt dan pelakukanya menjadi lebih baik dari sebelumnya, baik dari sisi kesholehan spiritual lebih-lebih dari sisi kesholehan sosial, bagi yang semacam ini tiada lain balasannya kecuali sorga.

Rasululloh saw bersabda “Orang orang yang berhaji adalah rombongan Tuhan dan para peziarahNya. Jika mereka meminta, Tuhan akan mengabulkan nya, jika mereka mohon ampun, Tuhan akan mengampuninya, Jika mereka berdoa, Tuhan akan mengabulkannya dan jika mereka meminta syafaat, metreka akan diberi syafaat “

Namun demikian untuk memperoleh haji mabrur bukanlah sesuatu yang mudah, diperlukan usaha sungguh-sungguh untuk tidak sekedar memahami formalitas ibadah tersebut, tetapi juga menguasai pesan moral dan makna bathinnya.

Ja’far Shodiq ra, ketika memberikan nesehat kepada pada jamaah haji mengatakan :

  1. Jika anda berangkat haji, kosongkan hatimu dari segala urusan dunia dan hadapkanlah dirimu sepenuhnya pada Allah Swt, bertawakkallah kepadaNya dalam setiap gerak dan diammu, jangan andalkan bekalmu, kekuatanmu, dan kekayaanmu, karena sesungguhnya tidak ada kekuatan kecuali atas pertolongan Allah.
  2. Tatkala saat ini seseorang di panggil Allah untuk mengahadapNya menunaikan ibadah haji, sadarlah bahwa suatu saat dirinya akan dipanggil kembali menghadap Allah untuk mempertanggung jawabkan amanah dari hidupnya selama di dunia, peristiwa seperti ini disebut pulang ke rahmatulloh (Mati), maka persiapkanlah dirimu seakan akan anda tidak akan kembali lagi ke rumah dan keluargamu.
  3. Ketika mengenakan baju ihram dari sehelai kain putih, sadarlah bahwa dalam kematian hanya kain semacam itu yang akan kita bawa menghadap Allah. Kekayaan, ketenaran, jabatan, keluarga dan semacamnya hanya mengantarkan sampai di pekuburan saja. Karena itu tanggalkan seluruh pakaian seperti itu dan gantilah dengan pakaian ketaatan, keikhlasan. kesucian, kejujuran, kerendahan hati, pengabdian dan kekhusu’an.
  4. Ketika menuju rumah Allah (baitullah) dan memasuki masjidil haram, mengajarkan agar dalam hidup ini kita bertekad untuk menanggalkan rumah rumah yang selalu mengungkung kita menuju rumah Allah dengan cara menghormati hak hak orang lain dan membuat aman orang lain dari lisan atau tangan kita, sebab menurut Rasululloh saw “man kana dahulahu aamina” (siapa yang yang memasuki masjidil haram, maka ia aman}
  5. Ketika anda tawaf, sadarlah bahwa hidup yang benar adalah hidup yang senantiasa mengitari nilai-nilai ilahiyah bukan mengitari hawa nafsu dan pernik pernik duniawi, kita ini dari Allah, hidup bersama Allah dan akan kembali pada Allah.
  6. Ketika melaksnakan sa’i, berjanjilah bahwa anda terus berjihad tak kenal menyerah untuk merapat menuju Allah swt demi memperoleh hidayah dan ridloNya.
  7. Tatkala wukuf di arafah, sadarlah bahwa betapa anda sangat kecil dihadapan kebesaran Allah, betapa anda tidak mempunyai kekuatan apa-apa kecuali atas pertolongan Allah, di arafah tidak ada yang membedakan kedudukan seseorang disisi Allah kecuali kadar keimanan dan ketaqwaan, karena itu tidak ada yang dapat kita andalkan dihadapan Allah selain mengharap pertolonganNya, maka akuilah segala dosa ditempat pengakuan ini (arofah).
  8. Ketika anda keluar dari Mina, anda juga mesti keluar minadzzulumaati ilannur, keluar dari segala kesalahan dan dosamu.
  9. Perbaharuilah perjanjianmu dengan kian mendekatkan diri kepada Allah di Muzdalifah, sembelihlah seluruh kecintaan duniawiyahmu dan nafsu kebinatanganmu ketika anda menyembelih qurban, dan persiapkanlah dirimu untuk bisa berkorban segalanya demi Allah swt.
  10. Lemparkan syahwat, kerendahan dan segala sifat tercelamu bersama dengan anda melempar jumrah, sebab kemulyaan hidup dapat diraih hanya bila anda konsisten melemparkan berbagai sahwat atau keinginan keinginan duniawi dan sifat sifat tercela kita, dan konsisten juga memerangi syetan dalam segala bentuknya.
  11. Cukurlah aib-aibmu lahir dan batin ketika anda mencukur rambutmu dengan cara melakukan taubatan nasuha kepada Allah swt.
  12. Sampaikan kata perpisahan untuk selamanya kepada semua bentuk kemaksiatan ketika anda melakukan tawaf wada’ atau tawaf perpisahan, serta tinggalkan apa saja yang tidak mendekatkanmu kepada Allah ketika anda meninggalkan haramain.

Terdapat beberapa kiat yang mesti dilakukan agar calon jamaah haji berpeluang memperoleh haji mabrur antara lain :

  1. Memutuskan diri dari penghambaan terhadap sesuatu selain Allah.
  2. Menjauhkan diri dari berbagai situasi dan suasana yang dapat melalaikan dirinya dari mengingat Allah.
  3. Mengendalikan seluruh instrumen kemanusiaannya dari hal hal yang dilarang Allah.
  4. Berusaha keras memerangi hawa nafsu yang selalu membujuk dirinya menjauhkan diri dari rahmat Allah.
  5. Menenggelamkan diri dalam samudra dzikir kepada Allah. Sebab dzikir adalah kunci menuju alam ghaib dan lampu alam batin. Tanpa kunci, seseorang tidak akan dapat memasuki rumah, dan tanpa lampu sebuah rumah akan gelap gulita.
  6. Membiasakan puasa dan bangun malam untuk beribadah kepada Allah.

 

Kiat-kiat ini bukan berarti seorang hujjaj tidak boleh terlibat dalam aktifitas sosial atau tidak boleh hidup normal, melainkan ia harus hidup sedemikian rupa sehingga apapun yang dilakukannya semata mata ditujukan demi Allah semata. Sekalipun perbuatan yang dilakukan nampak bersifat duniawi, tapi sesungguhnya ditujukan untuk kepentingan kehidupan akherat, yakni kehidupan yang lebih tinggi dan lebih jujur ketimbang dunia yang sesaat ini.

Intinya yang paling diperlukan dalam konteks ini adalah kemampuan hijrah dari perhatian dan keterikatan pada materi menuju ketergantungan sepenuhnya kepada Allah swt.