Keberhasilan perjuangan Rasululloh saw yang mengagumkan dalam melakukan pencerahan terhadap ummat disamping karena faktor kepribadian beliau yang memukau juga karena beliau menjadikan Akhlaq sebagai dasar, sumber, prinsip, acuan dan panglima dari perjuangan beliau., misalnya betapa beliau selalu membalas makian dengan doa keselamatan. Alqur’an melukiskan ” Sungguh Telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin”.(Qs. 9 : 128)
Ketika Mekkah ditaklukkan oleh pasukan Nabi saw, kaum qurays jahiliyah ketakutan, mereka hawatir akan mendapatkan balas dendam atas perbuatan mereka yang dulu sangat kejam terhadap Nabi, tapi sungguh menakjubkan mereka semua mendapat pengampunan dan kebebasan dari beliau, sifat pemaaf dan sikap arif Nabi saw tidak saja dilakukan saat beliau punya kekuasaan, dalam kondisi lemahpun beliau tetap konsisten dengan kepribadiannya yang mulya tersebut.
Lihatlah ketika beliau dan pengikutnya masih sangat lemah, mereka dilempari kotoran unta dan bahkan hampir dibunuh, Tetapi beliau malah mengangkat tangan berdoa” Allahummaghfir qoumi fainnahum laya’lamun (Ya Allah ampunilah kaumku yang telah menyakitiku sebab mereka lakukan itu karena ketidak tahuan mereka).
Dalam Qs. 41 : 34 disebutkan “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah Telah menjadi teman yang sangat setia “
Dari gambaran singkat diatas, sangat jelas bahwa faktor signifikan keberhasilan perjuangan Nabi saw adalah karena beliau menjadikan akhlak sebagai landasan utama perjuangan beliau. Itulah sebabnya beliau bersabda :
“Tidaklah seharusnya orang yang menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar kecuali memiliki 3 sifat, yakni lemah lembut dalam berdakwah, mengerti apa yang harus dilarang dan adil terhadap apa yang harus dilarang”.
Maka bila kita ingin sukses dalam perjuangan, tidak ada jalan lain kecuali kita harus kembali pada misi utama risalah nabi saw, yakni mewujudkan terciptanya tatanan akhlak yang mulia, tidak ada penyelesaian problema umat tanpa penegakan kembali supremasi akhlak.
Saat inipun, salah satu faktor utama yang menyebabkan kemunduran Islam adalah rusaknya akhlak dikalangan kaum muslimin sendiri, dan disisi musuh-musuh Islam terus melakukan upaya imprealisasi budaya terhadap Islam dengan cara menghancurkan akhlaqnya. Para muda-mudi muslim diracuni dengan pola gaul bebas, pakaian mini, tripping dan pelbagai rekayasa penghancur akhlak lainnya, lalu terjadilah krisis akhlak yang berkepanjangan yang menyebabkan kondisi umat semakin terpuruk.
Salah satu bukti bahwa akhlaq dalam Islam menempati posisi yang sangat sentral ialah dijadikannya indikator akhlak sebagai alat ukur keimanan seseorang baik dalam alqur’an maupun dalam hadits Nabi. Misalnya dalam surat Al mu’minun, Allah swt menegaskan tanda tanda orang beriman antara lain adalah : yang khusu’ dalam sholatnya (yang dengan itu dapat mencegah perbuatan keji dan munkar), yang menajuhkan diri dari perbuatan dan perkataan tidak berguna, yang menunaikan zakat, yang menjaga kemaluannya dan yang menjaga amanah.
Dalam ayat diatas, keberimanan seseorang seluruhnya diukur oleh hal hal yang bersifat akhlaqi, termasuk sholat, sebab seseorang yang melakukan sholat dengan makna yang benarnya, akan efektif untuk merealisasikan tanha ‘anil fakhsya’i wal munkar, dimana dengannya, akan tercipta masyarakat yang damai, aman dan harmonis.
Bahkan ketika bercerita tentang Fir’un, Alqur’an melukiskannya sebagai simbol tiran yang berakhlak buruk, misalanya : berbuat sewenang wenang, poitik pecah belah, penindas, berbuat kerusakan dsb (Qs. 28 : 4), Juga kata kata kafir dalam alqur’an selalu digandeng dengan indikator akhlaq yang tidak terpuji, misalnya : tidak setia ( Qs. 31 : 32), penghianat (Qs. 22 : 38), pendusta (Qs. 39 : 3), kepala batu (Qs. 50 : 24), dan bermaksiat (Qs. 71 : 27).
Demikian juga dalam berbagai hadits Nabi saw, misalnya, thema keimanan yang dimulai dengan kata “Man kana yu’minu billahi wal yaumil akheri” (barang siapa beriman kepada Alllah dan hari akhir), selalu disusul dengan ciri ciri akhlaq, seperti menyambung tali silatur rahiem (fal yasil rahimah), memulyakan tetangganya (fal yukrim jarah), berbicara yang baik atau diam saja (fal yaqul khoiran au liyasmud), menghormati tamu (fal yukrim daifah) dsb.
Contoh lain adalah pada hadits yang menggunakan kata “la yu’minu ” (untuk menunjukkan ketidak beruimanan seseorang) adalah mereka yang berakhlak tercela, seperti : suka mengganggu tetanggganya, tidur kenyang sementara tetangganya kelaparan disampingnya, tidak memegang amanah, tidak mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, dsb.
Memperhatikan begitu strategisnya posisi akhlaq sebagai ujung tombak perjuangan, maka jika kita ingin sukses dalam perjuanagn guna kembali menempatkan kita sebagai ummat terbaik, kiranya tidak ada jalan lain kecuali kembali menjadikan akhlaq sebagai landasan dan fokus gerakan perjuangan sebagaimana dilakukan Rasululloh saw.