Masyarakat yang ditata diatas landasan rasa aman, kesejahteraan dan harmonisasi, yang terbebas dari berbagai bentuk ancaman, kegelisahan, hidup saling curiga dan ketidak amanan, tentu merupakan dambaan setiap individu dan masyarakat dimanapun berada. Kehidupan yang didambakan Islampun adalah kehidupan yang marhamah dan saling menentramkan, yang didalamnya sarat akan keselamatan, perdamaian, toleransi, harmonisasi, cinta kasih dan persaudaraan.

Guna mewujudkan masyarakat marhamah diperlukan beberapa syarat :

Pertama, dibutuhkan semangat saling mengasihi

Masyarakat yang melandaskan relasi kemanusiaannya pada semangat saling mengasihi, yang hanya berfikir what can I do for you serta menegakkan hidupnya diatas “giving” bukan “taking” merupakan penopang utama terbentuknya masyarakat marhamah.

Saat ini masyarakat sudah jenuh dengan pola relasi kompetitif dimana yang berkembang adalah sikap agresif bahkan tak jarang mengorbankan perasaan kemanusiaan yang paling luhung sekalipun untuk memperoleh ambisinya walau harus saling menjatuhkan satu sama lain.

Maka dengan semangat kasih, mereka yang selama bertegur sapa basa-basi penuh kepalsuan akan kembali menikmati senyum ramah penuh ketulusan, mereka yang selama ini menjadi orang asing yang seakan tidak saling kenal kendati dekat, kini kembali menjalin kasih yang tulus, kini mereka akan belajar saling menyapa dan saling memberi, setelah sebelumnya saling bersaing, saling menuntut, saling mengambil dan saling mengalahkan.

Kedua, dibutuhkan semangat saling menyayangi.

Didalam masyarakat yang semacam ini, akan bercucuran kasih sayang, dimanapun mereka berinteraksi disitu muncul kehangatan senyum ramah. Banyak sekali teks suci yang mendorong semangat saling menyayangi, misalnya “Orang yang welas akan di welasi ar rahman, sayangilah mereka yang di bumi, niscaya kalian akan disayangi mereka yang dilangit (Hr. Buhori). Barang siapa tidak menyayangi manusia maka dia tidak akan disayangi Allah (Hr. Bukhori).

Dalam hadits qudsi Allah berfirman “Aku ini Allah dan Aku Arrahman, Aku jadikan rasa kasih sayang dalam hati hamba hambaKu, barang siapa yang menghubungkan kasih sayang, maka Aku hubungi dia dan barang siapa yang memutuskan kasih sayang, maka Aku putuskan pula hubunganKu dengan dia” . Saking tingginya nilai kasih sayang ini, Nabi saw pun perlu menegaskan “Barang siapa yang benar benar beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia selalu menyambung tali kasih sayang”.

Ketiga, dibutuhkan semangat saling menolong .

Dalam masyarakat yang semacam ini solidaritas kebersamaan dan kekeluargaan dalam menyelesaikan soal-soal kemanusiaan melampaui sekat-sekat primordial menjadi sangat kuat, sebab telah ditopang oleh etos saling menolong dengan “sungguh sungguh menolong”, yakni menolong tanpa tujuan apapun selain menolong itu sendiri, bukan menolong demi interes konsesif yang menyandera nasib orang yang ditolongnya, bukan mengutangi jasa orang lain untuk mengikat kebebasan orang yang diutangi tersebut.

Keempat, dibutuhkan semangat saling memaafkan.

Sifat yang paling menonjol pada diri Rasul saw selain al amin juga akhlakul karimah seperti : Al afwu ( suka memberi maaf), Asy syafaqah (welas asih), Al ikhaa’ (persaudaraan), An nashru (memberi pertolongan), Kazmul ghaidzi (menahan marah), dan lain lain, karena itu sifat yang mesti diteladani dari pribadi nabi saw adalah jiwa pemaaf dan sikap lapang dada.

Dalam sebuah riwayat yang lain juga ditegaskan : Barang siapa memaafkan saat dia mampu membalas maka Allah akan memberinya maaf pada hari kesulitan. (Hr. Tabrani). Alangkah indahnya jika budaya memaafkan kita jadikan sebagai pola hidup, memaafkan yang bukan saja karena orang lain bersalah, melainkan menjadi sikap hidup itu sendiri, sebab betapa malunya kita dihadapan Allah kalau sampai kita tidak punya sifat pemaaf sementara Allah sendiri begitu sangat pemurah dan pemaaf.

Kelima, dibutuhkan semangat toleransi dan saling menghormati.

Beragama pada dimensi eksoteris saja tentu akan melahirkan beda pemahaman, namun bila kita masuk lebih dalam lagi pada aspek substansi dari ajaran agama, maka semua perbedaan akan mencapai titik temu, sebab jalan ini melampaui perbedaan syariat dan tarekat, karena pada yang lebih dalam terdapat persamaan hakekat. Ditegaskan dalam Qs. Al al’am :132 Dan masing-masing akan memperoleh derajat yang sesuai dengan amalnya.

Maka jangan kita lihat saudara-saudara kita dari faham yang mereka anut tapi marilah kita ukur mereka dari akhlak dan amalnya, dari kontribusinya bagi ketinggian Islam dan kaum muslimin. Dalam sebuah hadits Rasul saw bersabda “Yang paling baik diantara kamu ialah yang paling bermanfaat bagi sesamanya” Dalam hal ini semua ulama sepakat orang seperti itulah yang paling utama, apapun fahamnya. Maka “Janganlah satu golongan merendahkan yang lain karena bisa jadi yang direndahkan itu justru lebih baik dari yang merendahkan”. (Qs 49 : 11)

Perbedaan tidak serta merta menjadi alasan untuk berpecah belah dan bermusuhan. Justru sebaliknya dengan perbedaan, akan muncul ketegangan kreatif yang pada akhirnya akan memotivisir kita untuk berlomba-lomba menuju berbagai kebaikan. Hal ini sangat penting, mengingat keanekaragaman yang ada hanyalah keanekaragaman jalan’, sedangkan yang dituju hanyalah satu dan sama yakni : keridhaan Allah swt semata.

Kesadaran diatas pada gilirannya selain akan menghantarkan kita pada kedewasaan yang dengan lapang dada menerima keanekaragaman sebagai sunnatullah, juga akan menjadi tumpuan manusia akan harapan keselamatan dan kebahagiaan hakiki.

Keenam, dibutuhkan semangat saling mencintai.

Diantara kunci-kunci dalam membangun masyarakat marhamah yang paling utama adalah “Cinta”. Cinta merupakan jembatan yang dibentangkan Allah diantara sesama kaum beriman, dengan cinta, hati mereka tersambung secara erat sehingga tak mungkin terpisahkan lagi (QS. 8 : 63). Dalam sebuah hadits disebutkan ” Kalian tidak akan masuk sorga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sebelum kalian saling mencintai, Maukah aku tunjukkan kepada sesuatu yang jika kalian mau melakukannya, maka kalian akan saling mencintai ? yaitu sebarkan salam ditengah tengah kalian (Hr. Muslim).

Imam Al ghazali berkata ” demi Allah jika aku menginfakkan seluruh kekayaanku dijalan Allah, Aku berpuasa terus menerus dan tak pernah berbuka disiang harinya, dan aku kerjakan shalat malam tanpa pernah tidur, kemudian aku bertemu Allah, akan tetapi aku tidak mencintai sesama muslim dengan cinta yang sebenarnya, maka sungguh aku hawatir Allah akan menelungkupkan wajahku di neraka.

Karena itu, cintalah yang semestinya menjadi landasan bagi relasi manusia dengan sesama dan lebih lebih dengan Tuhannya, sebab cinta adalah akar dari segala kebaikan dan keutamaan hidup manusia, tanpa cinta manusia akan saling mendengki satu sama lainnya, hubungan manusia yang kering akan cinta hanya menyebabkan hubungan yang garang, Keributan adalah manefestasi dari iklim hati yang membeku karena kering akan cinta .

As Syibli menulis “wahai cinta yang mengubah pahit menjadi manis, yang mengubah si kikir menjadi dermawan, yang menjadikan hati sebagai hati, tanpamu hati ini hanyalah segenggam lempung tak bermakna, bila anda tiada kamipun tanpa gembala, bila anda tiada kamipun kehilangan tawa, bila anda tiada kamipun bak air mengalir tanpa muara.

Alhasil, hanya dengan cinta, masyarakat marhamah dapat diwujudkan, hanya dengan masyarakat marhamah persaudaraan sejati akan terbentuk, dan hanya dengan persaudaraan sejati kehidupan yang damai dapat dicapai