Dalam Qs. 24 : 21 Allah swt berfiman “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. sekiranya tidaklah Karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, niscaya tak seorangpun dari kalian bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”

Seperti diketahui bahwa musuh klasik dan laten manusia yang selalu menghadangnya mencapai kesucian jiwa adalah makhluk yang bernama syetan. Ditegaskan dalam alqur’an “sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”, di ayat lain disebutkan ” Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebagian besar diantara manusia, maka apakah kamu tidak memikirkannya “?. Karena itu, jangan menganggap enteng permusuhan dengan syetan. Dan agar kita dapat terhindar dari perangkap syetan, maka mau tidak mau kita harus mengenali secara mendalam berbagai jurus siasat yang dilancarkan syetan dalam menjerumuskan mausia .

Ibnu Qoyyim Jauziyah menjelaskan berbagai siasat yang digunakan syetan guna menyesatkan manusia, antara lain :

Siasat pertama : Syetan menawarkan kepada manusia kekufuran, mengajak manusia menolak agama, mengingkari Tuhan, para Rasul dan Alqur’an, syetan memprovokasi kita dengan mengatakan “Manusia bisa maju dan mencapai kebebasannya bila meninggalkan agama, Barat bisa maju dan modern karena mereka berani melepaskan diri dari ikatan agama, menurut syetan agama hanyalah produk manusia primitif yang memasung kretivitas akal manusia, dan kitab suci agama tidak lebih dari sekedar dongeng para penghayal yang tidak sanggup menghadapi realitas hidup.

Akibat provokasi ini, lalu aturan Tuhan dianggap kolot dan aturan syetan dianggap modern. Manusia yang taat beragama dianggap tidak gaul, sementara yang biasa mabok dan berbuat mesum dianggap modern, pakaian jubah dan jilbab dianggap fundamentalis sementara pakaian mini, yang mempertontonkan aurat dianggap maju. Yang taat pada orang tua dianggap kampungan, sementara yang durhaka pada orang tua dianggap modern.

Seorang pemuda merasa hebat bila dalam semalam berhasil mengencani tiga gadis sekaligus, sementara seorang pemudi merasa bangga bila dirinya tidak perawan lagi. Dengan bangga mereka katakan nih, gue anak gaul. Ini perangkap syetan tingkat dasar, digunakan kepada orang-orang bodoh, atau pada manusia yang sudah menjadi syetan sebelum digoda syetan.

Siasat kedua. Bila siasat pertama gagal, syetan merancang siasat kedua, yakni Anda boleh meyakini Allah, Rasul dan kitab suci, tetapi juga boleh melakukan maksiat dan kemungkaran. Bagai lalat, kebaikan mau dan kejelekan juga mau. Sekali waktu rajin ke tempat pengajian tapi sekali waktu rajin juga ke tempat pelacuran. Fasih membaca qur’an tapi fasih juga memfitnah, khusu’ sholat di masjid, tapi khusu’ juga mencuri sandal setelah turun dari masjid. Giat ibadahnya dan giat juga korupsinya. Oke mengabdi pada Tuhan dan oke juga mengabdi pada Syetan.

Siasat ketiga Bila siasat kedua gagal, syetan menerapkan siasat ketiga, yakni menyeret kita pada dosa besar dengan tahapan-tahapan yang sangat halus, untuk sampai pada korupsi, terlebih dahulu diawali dengan memalsu anggaran, memanipulasi angka-angka, belajar memotong hak orang lain 1 kg beras, lalu 1 kw, terus 1 ton, terakhir sak pabriknya.

Demikian juga untuk sampai pada zina, anda disuguhi kenyamanan berduaan dengan yang bukan muhrim, lalu ngobrol kesana kemari, lalu sentuhan-sentuhan kecil, pacaran ditempat sepi, lalu mulai berani berciuman, bergerilya diseputar bagian-bagian sensitif, baru terakhir tembak sasaran utama. Demikian seterusnya.

Siasat keempat. Bila dosa besar tidak berhasil, siasat keempat siap dilancarkan, yakni anda dijebak dengan dosa-dosa kecil. Syetan membisikkan ditelinga anda bahwa berbuat dosa itu manusiawi, tidak ada manusia yang tidak berdosa, karenanya Allah menyediakan sarana taubat. Padahal dalam sebuah hadits ditegaskan “Janganlah kalian meremehkan dosa kecil sebab dosa besar itu pasti bermula dari dosa kecil, Dan bagi Islam dosa yang paling besar itu adalah dosa yang dianggap kecil oleh pelakunya”.

 

Siasat kelima, ini sudah termasuk canggih, bila tawaran dosa kecil gagal, selanjutnya anda ditawari oleh syetan ibadah yang utama tapi dilalaikan dari hal-hal yang lebih utama. Sholat sunnat adalah utama, bila anda sibuk sholat sunnat berjam jam, lalu anda melalaikan masalah-masalah sosial disekitar anda, anda mengabaikan orang yang butuh bantuan anda, maka anda termasuk yang terjabak dalam tipu daya syetan.

Berangkat umroh adalah utama, tapi jika anda melalaikan orang-orang yang kelaparan disekitar anda, maka anda termasuk melaksanakan hal yang utama tetapi meninggalkan yang lebih utama. Mengeluarkan dana besar untuk acara pengajian akbar adalah utama, tetapi bila anda melalaikan banyak saudara anda yang terpaksa melacurkan diri, menjual iman dan agamanya untuk sesuap nasi, maka anda termasuk yang terperangkap dalam siasat ini.

Siasat keenam adalah adalah jurus pamungkas yang biasa digunakan syetan untuk menghadapi sosok berlevel mumpuni.

Ketika semua siasat gagal membuahkan hasil, syetan mengeluarkan jurus pamungkasnya, yakni mengacaukan tata hati lewat riya’ dan ujub yang sangat halus dan terselubung pada nuktah-nuktah hati orang yang menjadi target sasarannya.

Dilukiskan suatu hari seorang shaleh duduk bersama Nabi Isa, tiba-tiba seorang pencuri nimbrung bersama mereka, dalam hati si pencuri terbesit, jika aku duduk bersama mereka, mungkin Tuhan akan mengampuniku. Disisi lain, si shaleh melihat si pencuri duduk disampingnya, mengomel dalam hati. Ia tak ingin mengotori tubuhnya dengan ketularan penjahat itu. Tiba-tiba Tuhan berkata, kepada Nabi Isa, katakanlah kepada orang shaleh dan pencuri itu, bahwa Aku telah menghapus catatan perbuatan mereka berdua dan mereka harus mulai dari nol lagi. Pahala si shaleh telah Kuhapus karena kecongkakannya, dan dosa si pencuri telah Kuhapus karena rasa ketulusan dan penyesalannya.

Demikian beberapa siasat syetan yang mesti kenali, agar kita tidak mudah terperangkap olehnya, dan bila mungkin kita dapat menaklukkannya

Bila dibanding dengan ibadah lainnya dalam Islam, ibadah haji bisa dibilang sebagai ibadah yang berat, sebab ia melibatkan seluruh kemampuan yang dimiliki seseorang, mulai perjuangan, pengorbanan, keikhlasan, fikiran, hati, tenaga, harta, waktu, dsb, karena itu ia ditempatkan sebagai rukun Islam yang terakhir, sebagai penyempurna kemusliman seseorang. Maka itu tidak heran bila Rasul saw menegaskan “Barang siapa berhajji ke Baitulloh lalu tiada berbuat buruk dan tidak berbuat fasik, maka keluarlah dia dari semua dosanya seperti hari dia dilahirkan oleh ibunya”.

Disebut sebagai penyempurna kemusliman seseorang, karena haji merupakan gerakan hijratun nafs “Warruj’a fahjur” yakni gerakan hijrah dari kebatilan menuju kebaikan, maka pasca haji, yang bersangkutan betul-betul menjadikan dirinya lebih baik dari sebelumnya dalam semua aspeknya. Inilah yang disebut haji mabrur, yakni haji yang pelaksanaannya tidak dinodai oleh dosa, sehingga maqbul (diterima) oleh Allah swt dan pelakukanya menjadi lebih baik dari sebelumnya, baik dari sisi kesholehan spiritual lebih-lebih dari sisi kesholehan sosial, bagi yang semacam ini tiada lain balasannya kecuali sorga.

Rasululloh saw bersabda “Orang orang yang berhaji adalah rombongan Tuhan dan para peziarahNya. Jika mereka meminta, Tuhan akan mengabulkan nya, jika mereka mohon ampun, Tuhan akan mengampuninya, Jika mereka berdoa, Tuhan akan mengabulkannya dan jika mereka meminta syafaat, metreka akan diberi syafaat “

Namun demikian untuk memperoleh haji mabrur bukanlah sesuatu yang mudah, diperlukan usaha sungguh-sungguh untuk tidak sekedar memahami formalitas ibadah tersebut, tetapi juga menguasai pesan moral dan makna bathinnya.

Ja’far Shodiq ra, ketika memberikan nesehat kepada pada jamaah haji mengatakan :

  1. Jika anda berangkat haji, kosongkan hatimu dari segala urusan dunia dan hadapkanlah dirimu sepenuhnya pada Allah Swt, bertawakkallah kepadaNya dalam setiap gerak dan diammu, jangan andalkan bekalmu, kekuatanmu, dan kekayaanmu, karena sesungguhnya tidak ada kekuatan kecuali atas pertolongan Allah.
  2. Tatkala saat ini seseorang di panggil Allah untuk mengahadapNya menunaikan ibadah haji, sadarlah bahwa suatu saat dirinya akan dipanggil kembali menghadap Allah untuk mempertanggung jawabkan amanah dari hidupnya selama di dunia, peristiwa seperti ini disebut pulang ke rahmatulloh (Mati), maka persiapkanlah dirimu seakan akan anda tidak akan kembali lagi ke rumah dan keluargamu.
  3. Ketika mengenakan baju ihram dari sehelai kain putih, sadarlah bahwa dalam kematian hanya kain semacam itu yang akan kita bawa menghadap Allah. Kekayaan, ketenaran, jabatan, keluarga dan semacamnya hanya mengantarkan sampai di pekuburan saja. Karena itu tanggalkan seluruh pakaian seperti itu dan gantilah dengan pakaian ketaatan, keikhlasan. kesucian, kejujuran, kerendahan hati, pengabdian dan kekhusu’an.
  4. Ketika menuju rumah Allah (baitullah) dan memasuki masjidil haram, mengajarkan agar dalam hidup ini kita bertekad untuk menanggalkan rumah rumah yang selalu mengungkung kita menuju rumah Allah dengan cara menghormati hak hak orang lain dan membuat aman orang lain dari lisan atau tangan kita, sebab menurut Rasululloh saw “man kana dahulahu aamina” (siapa yang yang memasuki masjidil haram, maka ia aman}
  5. Ketika anda tawaf, sadarlah bahwa hidup yang benar adalah hidup yang senantiasa mengitari nilai-nilai ilahiyah bukan mengitari hawa nafsu dan pernik pernik duniawi, kita ini dari Allah, hidup bersama Allah dan akan kembali pada Allah.
  6. Ketika melaksnakan sa’i, berjanjilah bahwa anda terus berjihad tak kenal menyerah untuk merapat menuju Allah swt demi memperoleh hidayah dan ridloNya.
  7. Tatkala wukuf di arafah, sadarlah bahwa betapa anda sangat kecil dihadapan kebesaran Allah, betapa anda tidak mempunyai kekuatan apa-apa kecuali atas pertolongan Allah, di arafah tidak ada yang membedakan kedudukan seseorang disisi Allah kecuali kadar keimanan dan ketaqwaan, karena itu tidak ada yang dapat kita andalkan dihadapan Allah selain mengharap pertolonganNya, maka akuilah segala dosa ditempat pengakuan ini (arofah).
  8. Ketika anda keluar dari Mina, anda juga mesti keluar minadzzulumaati ilannur, keluar dari segala kesalahan dan dosamu.
  9. Perbaharuilah perjanjianmu dengan kian mendekatkan diri kepada Allah di Muzdalifah, sembelihlah seluruh kecintaan duniawiyahmu dan nafsu kebinatanganmu ketika anda menyembelih qurban, dan persiapkanlah dirimu untuk bisa berkorban segalanya demi Allah swt.
  10. Lemparkan syahwat, kerendahan dan segala sifat tercelamu bersama dengan anda melempar jumrah, sebab kemulyaan hidup dapat diraih hanya bila anda konsisten melemparkan berbagai sahwat atau keinginan keinginan duniawi dan sifat sifat tercela kita, dan konsisten juga memerangi syetan dalam segala bentuknya.
  11. Cukurlah aib-aibmu lahir dan batin ketika anda mencukur rambutmu dengan cara melakukan taubatan nasuha kepada Allah swt.
  12. Sampaikan kata perpisahan untuk selamanya kepada semua bentuk kemaksiatan ketika anda melakukan tawaf wada’ atau tawaf perpisahan, serta tinggalkan apa saja yang tidak mendekatkanmu kepada Allah ketika anda meninggalkan haramain.

Terdapat beberapa kiat yang mesti dilakukan agar calon jamaah haji berpeluang memperoleh haji mabrur antara lain :

  1. Memutuskan diri dari penghambaan terhadap sesuatu selain Allah.
  2. Menjauhkan diri dari berbagai situasi dan suasana yang dapat melalaikan dirinya dari mengingat Allah.
  3. Mengendalikan seluruh instrumen kemanusiaannya dari hal hal yang dilarang Allah.
  4. Berusaha keras memerangi hawa nafsu yang selalu membujuk dirinya menjauhkan diri dari rahmat Allah.
  5. Menenggelamkan diri dalam samudra dzikir kepada Allah. Sebab dzikir adalah kunci menuju alam ghaib dan lampu alam batin. Tanpa kunci, seseorang tidak akan dapat memasuki rumah, dan tanpa lampu sebuah rumah akan gelap gulita.
  6. Membiasakan puasa dan bangun malam untuk beribadah kepada Allah.

 

Kiat-kiat ini bukan berarti seorang hujjaj tidak boleh terlibat dalam aktifitas sosial atau tidak boleh hidup normal, melainkan ia harus hidup sedemikian rupa sehingga apapun yang dilakukannya semata mata ditujukan demi Allah semata. Sekalipun perbuatan yang dilakukan nampak bersifat duniawi, tapi sesungguhnya ditujukan untuk kepentingan kehidupan akherat, yakni kehidupan yang lebih tinggi dan lebih jujur ketimbang dunia yang sesaat ini.

Intinya yang paling diperlukan dalam konteks ini adalah kemampuan hijrah dari perhatian dan keterikatan pada materi menuju ketergantungan sepenuhnya kepada Allah swt.

Diceritakan bahwa sebelum mencapai sidratul muntaha, Rasululloh saw mendengar doa para malaikat penjaga arsy yang tak henti-henti mendoakan kaum mu’minin. Peristiwa ini dilukiskan dalam QS . 40 : 7 sebagai berikut :

(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Anda meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Anda dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala, Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam syurga ‘Adn yang Telah Anda janjikan kepada mereka dan orang-orang yang sholeh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Andalah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

 

Berdasarkan ayat diatas, di dunia ini terdapat -minimal- dua kelompok manusia yang selalu didoakan malaikat penjaga arsy agar oleh Allah swt dimasukkan kedalam sorga bersama seluruh keluarganya, orang tuanya, anak istrinya beserta semua keturunannya, mereka adalah :

 

Pertama : Orang-orang yang kembali bertaubat dan mengikuti Jalan Allah.

Seperti diketahui bahwa pada dasarnya setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah) Nabi saw bersabda”Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut yahudi nasrani atau majusi” (Hr. Bukhari Muslim)., Akan tetapi karena manusia juga merupakan mahluk yang lemah, maka dalam perjalanan hidupnya acapkali tidak kuat menahan ajakan nafsu dan syetan yang terus menggodanya, lalu yang bersangkutan terjerembab pada jurang dosa dan mulai bergeser dari posisinya semula yang suci.

Namun ketika ia bertaubat, kembalilah ia pada posisinya semula, maka berbahagialah orang-orang yang ditengah perjalannya segera menyadari kekeliruannya dan secepatnya kembali kepada Tuhannya, Ia tutup lembaran masa lalunya yang kelabu dengan taubatan nasuha, sekaligus merintis orientasi hidup baru yang benar-benar jujur sesuai ajaran Allah.

Alqur’an menyerukan “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya (taubatan nasuhaa). Mudah-mudahan Tuhanmu menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai”.

Pada ayat lain disebutkan ” Barang siapa yang selalu berbuat kejelekan akan dilipat gandakan adzab untuknya di hari kiamat dan dia kekal dalam adzab itu dalam keadaan yang hina, Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal sholeh, maka kejahatan mereka ditutup oleh Allah dengan kebajikan. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang. Golongan seperti merekalah yang senantiasa di doakan para malaikat agar dimasukkan ke sorga bersama anggota keluarganya.

Manusia yang bertaubat dari kesalahannya menurut alqur’an bukan saja di doakan para malaikat, melainkan juga dianggap telah mendapatkan kemenangan, sebagaima firmanNya ” Itulah kemenangan yang besar, mereka itu adalah orang orang yang bertaubat, yang beribadah, yang memuji Allah, yang berpuasa, yang rukuk dan sujud yang beramar makruf dan bernahi mungkar serta yang memelihara hukum hukum Allah”. Dalam Qs. 39 : 53 Allah swt menegaskan ” Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Perhatikan, bila kepada para pendosa yang melampaui batas, yang keterlaluan menganiaya dirinya, Allah swt masih memanggilnya dengan panggilan mesra “Yaa Ibadi” (wahai hamba hambaKu), apalagi kepada orang orang yang bukan pendosa, sungguh menakjubkan, Allah memang maha sabar (al shabur), walau dirinya ditentang, dimaksiati, dikhianati, Dia tetap bersikap mesra kepada mereka. Allah memang memiliki sifat marah, tetapi sabarnya jauh melampaui marahnya, Allah bisa saja murka, tetapi maafnya jauh lebih luas dari murkanya.

 

 

Kedua, adalah orang orang yang mengisi lembaran hidupnya dengan iman dan Amal Sholeh.

Dalam Qs. 8 : 2 – 3 dikemukanan” Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia”.

    Menurut Imam Qusyairy, Iman adalah kata yang terangkai dari huruf Alif, Ya’, Mim dan Nun. Huruf Alif bermakna ijtihad, huruf Ya’ bermakna Yaqin, Mim berarti Maghfirah dan huruf Nun berarti Nur. Artinya seseorang bisa disebut beriman manakala yang bersangkutan memiliki ghiroh mujahadah yang tinggi dan tak kenal henti untuk memperjuangkan kebenaran, kemanusiaan dan keadilan (Ijtihad), memiliki keyakinan yang kokoh bahwa apa yang dikerjakan akan ada nilainya (Yaqin), memiliki sifat pemaaf (Maghfirah), dan seluruh tindakannya dimaksudkan sebagai pencerahan masyarakat yang mengeluarkannya dari kegelapan menuju cahaya, (Nur) .

Dengan keimanan, seseorang akan senantiasa takut kepada Allah dan teguh dalam memegang perinsip agama. Rasululloh Saw bersabda : Semua mata akan menangis pada hari kiamat, kecuali tiga hal : Pertama, mata yang selalu menangis karena takut kepada Allah Swt. Kedua, mata yang dipalingkan dari sesuatu yang diharamkan Allah, Dan ketiga, adalah mata yang tidak tidur untuk urusan agama Allah dan urusan kemanusiaan.

Dalam Alqur’an kata iman selalu digandeng dengan dengan kata amal sholeh, artinya karena iman didefinisikan sebagai “Tasdiqun bi al Qolbi, wa iqrarun bil lisan wa amalun bi al Arqan (Meyakini dengan hati, mengiqrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan perbuatan), maka ia butuh perwujudan dan realisasi kongkrit berupa amal sholeh, sehingga sejatinya Iman dan amal adalah dua hal yang tidak bisa dipisah satu sama lain.

Ketika Rasulullah ditanya sahabat tentang amal apa yang paling utama, Rasul Saw menjawab : seutama-utama amal kebajikan adalah memasukkan rasa bahagia pada hati orang yang beriman, yaitu melepaskannya dari rasa kelaparan dan membebaskannya dari rasa ketakutan.

Walhasil, karena keberimanan seseorang diukur oleh sejauhmana kemanfaatannya bagi orang lain, maka jika kita ingin didoakan para malaikat arsy, berbuatlah sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, segeralah kembali pada Allah dengan bertaubat, setelah sekian lama melakukan pelanggaran dengan menipu diri sendiri dan menipu orang lain

Dalam sebuah hadits qudsi Allah swt berfirman “Sesungguhnya Aku (Allah) hanya akan menerima sholat orang orang yang merendahkan dirinya karena kebesaranKu, dia tidak sombong dengan mahlukKu yang lain, dia menyayangi orang orang miskin dan menderita, menahan diri dari hawa nafsunya karena Aku, melazimkan hatinya untuk takut kepadaKu, memberi makan pada yang lapar, dan memeberi pakaian bagi yang telanjang, memberi perlindungan bagi orang yang kena musibah dan orang orang yang terasing. Kelak cahaya orang itu akan bersinar seperti cahaya matahari, Aku akan berikan cahaya ketika dia kegelapan, Aku akan berikan ilmu ketika ia tidak tahu, Aku akan lindungi dia dengan kebesaranKu, akan Kusuruh malaiakat untuk menjaganya, jika ia berdoa, Aku akan menjawabnya, kalau dia meminta, Aku akan segera memenuhinya, perumpamaannya di hadapanKu seperti perumpamaan firdaus.

Menurut hadits qudsi diatas, tanda orang yang diterima sholatnya oleh Allah Swt adalah sebagai berikut :

 

Pertama, Mereka yang datang dengan merendahkan dirinya kepada Allah.

Yang dimaksud dengan merendahkan diri dihadapan Allah swt dalam sholat adalah bahwa kita datang menghadapNya dalam rangka memohon pertolongan bukan untuk bernegosiasi, karena itu kita mesti mengakui segala kekurangan kita, menyadari betapa kita sangat kecil dihadapan kebesaranNya, kita tidak memiliki kekuatan apapun kecuali atas pertolonganNya. Memang sandungan pertama dalam beribadah adalah bangga dengan diri sendiri, karena itu buanglah segala macam kesombongan, ujub dan riya’, lalu serahkan semua urusan dan bertawakkallah secara total kepa Allah swt.

    Seseorang yang tidak merendahkan diri dihadapan Allah karena merasa telah banyak beramal, sesungguhnya ia telah meremehkan pemberian Allah, artinya, ia sebenarnya tidak berjalan menuju Allah tetapi berkutat dengan dirinya sendiri, ia tidak mencari ridlo Allah tetapi mengejar ridlo dirinya sendiri.

    

Kedua, Mereka yang tidak sombong dengan makhluk Allah yang lain.

 

Dihadapan Allah setiap manusia mempunyai kedudukan yang sama, tidak ada manusia yang lebih suprior atau inferior terhadap manusia lainnya. Demikian juga tidak ada suatu ras, suku, kelompok atau bangsa yang lebih tinggi atau lebih rendah dari ras, suku, kelompok atau bangsa lainnya, semuanya berkedudukan sama dihadapan Allah, yang membedakan mereka hanyalah kadar ketaqwaannya. “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu” (Qs.49 : 13)

Maka jika masih ada diantara kita yang secara kaku menganggap hanya pihaknya yang berhak atas sorga sementara yang lain pasti neraka, yang menganggap hanya tafsir kelompoknya sebagai satu-satunya yang benar dan tafsir kelompok lain salah semua, yang membanggakan dirinya dan menganggap orang lain sebagai rendah, lalu menghalalkan fitnah untuk mendiskriditkan pihak yang tidak sepaham dengan kita, maka berarti sholat kita belum diterima oleh Allah.

 

Ketiga, Mereka yang menyayangi orang-orang miskin dan menderita.

Menurut Alqur’an, orang yang enggan memberi pertolongan kepada orang-orang miskin kendati mendirikan sholat tetap disebut mendustakan agama dan celaka. Disebutkan ” Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, Dan tidak memberi makan orang miskin. Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang menjadikan sholat sebagai alat berbuat riya, Dan enggan memberi pertolongan kepada orang miskin dengan barang berguna (Qs. 107 : 1-7)

Jadi bila ada orang rajin sholat tetapi tidak pernah memberi makan orang miskin maka sholatnya tidak diterima, demikian juga bila ada orang rajin memberi makan orang miskin tetapi tidak pernah melakukan sholat, maka iapun tidak dihitung sebagai sholat yang diterima. Dalam pandangan Islam, orang yang sholat tetapi sholatnya tidak berdampak positif bagi orang lain, maka ia tidak dihitung sholat kendati melaksanakan sholat.

Keempat, Mereka yang dapat menahan nafsu dari setiap keinginan yang dilarang Allah.

Orang yang betul-betul menegakkan sholat mestinya dapat mengekang dan mengendalikan hawa nasfsunya dari perbuatan yang dilarang Allah, sebab memang salah satu maksud dari mendirikan sholat adalah dalam rangka mencegah yang bersangkutan dari perbuatan keji dan mungkar. sebagaimana disebutkan dalam Qs. 29 : 45 ” Dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar “.

Maka bila seseorang kendati disatu sisi mendirikan sholat, tetapi disisi lain masih tidak berhenti mengkorupsi uang rakyat, melakukan elegal loging, membekingi perjudian dan prostitusi, dan bentuk bentuk perbuatan keji lainnya, maka jelas sholat yang bersangkutan tidak diterima oleh Allah swt. Sholat yang seperti itu bukan sholat yang benar melainkan sholat banyolan, sebab hal yang demikian sama persis dengan orang yang mengharap pahala sambil bermaksiat. Karena itulah dalam sebuah hadits disebutkan ” Kalau sholat seseorang tidak mencegah dirinya dari berbuat keji dan mungkar maka sholatnya tidak menambah sesuatu kecuali hanya akan menjauhkannya dari Allah Swt”.

 

Kelima. Mereka yang banyak berdzikir kepada Allah Swt.

Salah satu tujuan sholat adalah untuk berdzikir kepada Allah, sebagaimana ditegaskan alqur’an Assholatu lidzikiri. (bersholatlah untuk berdzikir kepadaKu). Berdzikir artinya mengingat Allah, Ketika kita mengingat Allah maka Allah juga akan mengingat kita, sebagaimana janjiNya ” ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”.

Semakin sering kita mengingat Allah, semakin sering pula Allah mengingat kita (Qs. 62 : 10). Ketika Allah sering mengingat kita, maka Allah akan bersama kita, mencintai kita dan menolong kita, bila Allah telah menjadi penolong kita, maka tidak ada satupun hal yang sulit bagi kita dalam menjalankan kehidupan ini. Sebaliknya orang yang shlolat tetapi tidak berdzikir kepada Allah, berarti ia gagal dalam sholatnya, atau bahkan apa yang dilakukan mereka bukan termasuk sholat kendati mereka bersholat.

 

Keenam, Mereka yang mempunyai kepekaan dan solidaritas sosial dan kemanusiaan yang tinggi .

Dalam sebuah hadits Rasululloh saw menegaskan : Perumpamaan kaum muslimin dalam hal jalinan kasih sayang, kecintaan dan kesetia kawanan ibarat satu tubuh, bila salah satu anggota tubuhnya sakit, maka yang lainpun ikut juga merasakannya. Mereka Ibarat satu bangunan, yang satu menguatkan yang lainnya. Karena itu benurut beliau, barang siapa diantara kaum muslimin yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin yang lain, maka mereka bukan termasuk golongan umat ku.

Maka bila sering sholat tetapi tidak peka dengan nasib saudaranya yang lain, tidak memiliki solidaritas sosial yang tinggi, maka berarti kita masih tergolong dalam kelompok yang disebut Nabi saw sebagai “akan datang suatu zaman dimana orang berkumpul di masjid untuk sholat berjamaah tetapi tidak satupun diantara mereka yang beriman “dan tidak satupun juga yang dihitung sebagai orang yang menegakkan sholat.

    Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa sholat yang akan diterima oleh Allah Swt adalah sholat yang tidak saja memberikan keuntungan dan manfaat kepada individu yang melakukannya, tetapi yang lebih penting adalah punya akses dan nilai manfaat sosial kemasyarakatan yang luas.

    Kalau kita mampu melakukan itu semua, maka berarti sholat kita telah diterima dan Allah akan melindungi kita dengan kebesaranNya. Perlindungan itu bukan saja dapat diperoleh di akherat kelak, tetapi juga akan didapatkan di dunia ini. Allah Swt berfirman dalam Qs. 41 : 31 “Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta

Adalah obsesi setiap muslim untuk selalu mendapatkan syafaat Nabi Muhammad saw, selalu dekat dengan beliau, diakui sebagai pengikut setianya dan dikumpulkan bersamanya di akherat kelak, dan tidak ada seorangpun diantara kita yang menghendaki jauh dari beliau, sebab sejatinya tidak ada yang dapat kita andalkan dari amal kita dihadapan Allah tanpa syafaat beliau.

Sungguh terlalu banyak dosa dan kelemahan kita dan terlalu sedikit amal sholeh kita untuk dibawa kehadapan Allah swt, maka satu-satunya harapan kita yang masih tersisa untuk memperoleh kehidupan yang baik adalah kasih sayang Allah swt dan syafaat Rasululloh saw. Bahkan saking pentingnya syafaat Rasululloh, disebutkan dalam sebuah hadits ” Doa seseorang masih tertutup hijab sebelum ia mengucapkan sholawat bagi Muhammad saw dan ahlul baitnya”.

Namun demikian, untuk mendapatkan syafaat Rasululloh saw, dibutuhkan beberapa persyaratan antara lain :

Pertama, mencintai beliau secara tulus.

Anas bin malik meriwayatkan sebuah hadits ” Suatu saat seorang arab dusun bertanya kepada Rasululloh saw : ya Rasul, kapankah hari kiamat itu tiba ? Rasul yang mulia balik bertanya : apa gerangan yang telah anda siapkan hingga anda bertanya itu ? Ia menjawab, demi Allah saya tidak mempersiapkan apa-apa kecuali kecintaan saya kepada anda, lalu Rasul saw bersabda “Anta ma’a man ahbabta” (anda akan dikumpulkan bersama orang yang anda cintai). Dalam Alqur’an Allah berfirman ” Katakanlah, Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Muhammad, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Qs. 3 : 31)

Jika seseorang mencintai orang lain, maka nama orang itu akan sering disebutnya, seluruh prilakunya akan ditirunya, ia akan menjalankan apa yang diperintahkan kekasihnya itu dan menjauhi apa yang dilarangnya. Sama dengan orang mencintai bola, maka dia akan mencintai apa saja yang berkaitan dengan bola, dia akan menempel poster bola, membaca segala hal yang berkaitan dengannya dan selalu bersemangat dalam membicarakannya, dia akan mampu bangun tengah malam — meski amat capek — bila tim kesayangannya bertanding, dia berusaha meniru segala modelnya, menganggap penting segala pemberiannya, dan mempertahankannya hingga tetes darah penghabisan.

Demikian juga dengan cinta kepada Rasululloh saw, maka salah satu buktinya adalah bila disebut nama beliau bergetarlah hatinya, bergejolaklah totalitas emosinya karenanya., dan terdorong untuk senantiasa menjalankan apa yang diperintah Rasul serta menjauhi segala sesuatu yang dilarangnya.

Dalam sebuah riwayat disampaikan ‘Manusia yang paling mulia di hari kiamat, adalah mereka yang paling banyak mengucapkan sholawat kepada Muhammad saw”.

 

Kedua, meneladani sifat, prilaku dan pola hidup beliau.

Semasa hidupnya Rasululloh menampilkan akhlakul karimah, meskipun tidak jarang beliau diganggu, dicemooh difitnah, diteror , diembargo bahkan diancam akan dibunuh oleh para berandalan kafir qurayis. Tetapi Rasul dengan sangat ramah terus mendoakan keselamatan mereka, Ya Allah berilah petunjuk kaumku, mereka bersikap demikian kepadaku karena kebodohan mereka. Rasul senantiasa membalas kejahatan dengan kebaikan.

Selain itu Rasul juga dikenal sebagai sosok yang jujur terpercaya, pola hidupnya sederhana meskipun sebenarnya beliau bisa hidup bergelimang harta bila beliau mau, beliau lebih memilih bergaul dengan mustad’afin dari pada mustadbirin, memilih gaya hidup alit daripada elit, memilih menempuh dukacita dari pada sukaria, Rasul lebih banyak menangis daripada tertawa. Beliau selalu menempatkan ketinggian akhlak diatas yang lain, mendahulukan orang lain dari dirinya sendiri, sikapnya ikhlas dan bersahaja, lebih banyak berbuat daripada berdebat. Itulah sebagian prinsip pola hidup Rasulullah. Dalam sebuah riwayat, Rasululloh berkata kepada Ali bin Abi Tholib “pegang teguhlah prinsip yang aku contohkan padamu meskipun karena itu anda sampai menguyah urat-urat kayu, sehingga anda meninggal dunia dalam keadaan seperti itu” .

 

Ketiga, melanjutkan misi kerisalahan beliau. Salah satu risalah penting beliau adalah menyempurnakan Akhlak. Ditegaskan dalam hadits “Sesungguhnya Aku tidak diatus kecuali untuk menyempurnakan akhlaq”.

Apakah semua orang Islam dapat secara otomatis akan mendapatkan syafaat Rasul ? Jawabannya, tidak. Bila orang itu masih mengukur orang lain dari aliran fikirnya, bukan dari amal dan akhlaqnya, bila orang itu merasa paling benar sendiri tetapi berakhlak rendah, memperbesar perbedaan tetapi lalai meningkatkan kwalitas pribadinya, mengaku inklusif sambil bersikap eksklusif, memuji-muji Rasul saw tetapi tidak menirunya, maka tentu mereka tidak akan memperoleh syafaat Rasul.

Muthahhari menyebutkan diantara ciri-ciri pengikut Muhammad saw, adalah : (1) Mereka yang berjuang di jalan Allah dan tidak peduli apakah maut menjemput mereka atau mereka menjemput maut. (2) Mereka yang mendahulukan kepentingan orang lain dari kepentingan diri sendiri, mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri. (3) Mereka yang memberikan apa yang dipandang baik dan menahan apa yang dipandang jelek, tidak didapatkan dalam diri mereka prilaku yang dilarang Allah swt. (4) Mereka yang banyak memberikan manfaat pada orang lain, walau dirinya sendiri harus menderita. (5) Mereka yang lebih banyak memberikan uswatun hasanah daripada mau’idatun hasanah. (6) Mereka yang membalas makian dengan doa keselamatan.(7) Mereka yang mengayomi siapa saja terutama orang orang alit, teraniaya dan tertindas. (8) Mereka yang prinsip hidupnya tidak bisa ditukar dengan gemerlap duniawiyah. Dan (9) Mereka yang meletakkan ukuwah diatas segalanya.

Maka kalau ingin mendapat syafaat Rasul, seseorang harus banyak memberikan manfaat pada orang lain walau dirinya harus menderita, tidak berhenti mengupayakan persatuan kaum muslimin walau maut taruhannya, terus memperkokoh kometmen dalam berpegang teguh kepada dua pusaka peninggalan beliau dan terus berjuang mempersatukan sesama mu’min dalam akidah, bertoleransi dalam khilafiyah dan berfastabiqul khoirat dalam amaliyah.

 

 

Kini saatnya bercermin diri pantaskah kita mengharap syafaat Rasul padahal sedikitpun kita tidak berpegang teguh pada prinsip hidup yang dicontohkan beliau, pantaskan kita mengharapkan sorga Allah padahal kita tak berhenti bermaksiat kepadaNya. Maka, bila kita ingin memperoleh syafaat Rasul saw, cintailah beliau dengan tulus, teladani sifat dan pola hidupnya, pegang teguhlah prinsip yang dicontohkannya, lanjutkanlah misi kerisalahannya dan ta’atilah apa yang diperintahkan dan jauhilah segala yang dilarangnya. Bila semua itu kita lakukan, insyaAllah syafaat beliau akan kita raih

Yang membedakan manusia yang satu dengan lainnya dihadapan Allah bukanlah rupa, etnik, jenis kelamin, kekayaan, kekuasaan atau jabatan, tetapi kadar ketaqwaannya. Allah berfirman ” Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di hadapan Allah adalah yang paling bertaqwa diantara kalian”.

Secara sederhana taqwa adalah melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya, baik secara terang terangan maupun secara rahasia. Karena posisinya yang demikian utama dalam Islam, maka para pelakukunya (Muttaqin) akan mendapatkan berbagai balasan yang besar dari Allah baik di dunia lebih lebih diakherat.

Balasan Allah yang langsung diterima oleh manusia taqwa didunia, antara lain :

  1. Allah akan memudahkan segala urusannya, memberi jalan keluar atas semua kesulitannya dan memberinya rezeki dengan jalan tidak disangka sangka. (Qs. 65 : 2, 3)
  2. Allah akan memberikan furqon (kemampuan instingtif) untuk dapat membedakan yang haq dan yang bathil, dijauhkan dari kesalahan-kesalahan dan diampuni dosa-dosanya. (Qs. 8 : 29)
  3. Allah akan membuka barokah dari segenap pintu langit dan bumi (Qs. 7 : 96)
  4. Mereka selalu disertai, ditolong dan dicintai Allah sehingga dalam keadaan apapun tidak perlu hawatir dan bersedih hati (Qs. 10 : 62)
  5. Diwafatkan dalam keadaan baik (Qs. 16 : 32) .

Sedangkan balasan Allah bagi manusia taqwa di akherat antara lain :

  1. Diselamatkan oleh Allah
  2. Mendapat pahala yang berlipat ganda (Qs 65 : 5)
  3. Tak tersentuh api neraka (Qs 39 : 61)
  4. Mendapat posisi paling mulya disisi Allah
  5. Sebagai utusan terhormat (Qs 19 : 85)
  6. Mendapat balasan sorga. (Qs. 16 : 32, 54 : 54,55)
  7. Mendapat salam penghormatan tatkala memasuki sorga (Qs. 39 : 74)

 

Menurut Imam Qusyairi kata “taqwa” tersusun atas empat huruf, yakni huruf Ta’ ( ) yang bermakna Tawadlu , huruf Qof ( ) mempunyai arti Qona’ah, huruf wawu ( ) berarti wara’, dan huruf Ya’ ( ) berarti Yaqin. Dari susunan kata tersebut maka seseorang dapat disebut telah memperoleh derajat taqwa apabila memiliki sifat, Tawadu’, Qona’ah, Wara’ dan Yakin.

Pertama, Tawadlu’

Tawadlu’, merupakan salah satu wujud dari ahlakul karimah, yakni sikap rendah hati, tidak mau menonjolkan diri dan jauh dari arogansi atau kesombongan. Orang tawadlu’ sama dengan falsafah bumi, dirinya rela untuk selalu berposisi dibawah, rela dinjak-injak atau diapakan saja, tetapi dirinya terus istiqomah memberikan manfaat bagi sekalian alam, buktinya kepada bumi mayat manusia dikubur, dari sesuatu yang dihasilkan bumi manusia makan dari minum.

Orang tawadlu’ juga sama dengan falsafah padi dan air laut, semakin berisi dan menguning padi semakin tertunduk, air laut juga begitu, semakin dalam dia semakin tenang. Karena sifatnya yang demikian, maka dalam sebuah hadits disebutkan “barang siapa yang bersikap tawadlu’ derajatnya akan diangkat oleh Allah swt”.

Kedua, Qona’ah

Qona’ah artinya ridlo dengan segala pemberian yang menjadi keputusan Allah, karenanya hidupnya sangat tenang dan damai. Menurut Al Ghazali, orang qona’ah adalah orang yang merasa kaya meskipun tidak kaya, dirinya merasa cukup dengan apa yang telah diberikan Allah kepadanya, ia tidak mau tergiur mati-matian mengejar sesuatu yang tidak bisa dibawa mati, ia menjadi merdeka karena ridlo (menerima apa adanya) segala keputusan Allah.

Dalam beberapa riwayat, Rasululloh bersabda “Bukanlah kekayaan itu lantaran banyak harta, tetapi kekayaan sebenarnya adalah kekayaan jiwa” ( Hr.Tabrani). Qona’ah itu adalah harta yang tak akan hilang dan simpanan yang tak akan lenyap ( Hr.Tabrani)

Ketiga, Wara’.

Wara’ adalah lawan dari sikap sembrono, yakni sikap berhati-hati tidak saja pada hal-hal yang jelas-jelas tidak baik (haram), tetapi juga pada hal-hal yang masih belum jelas (subhad).

Orang yang wara’ sikap selektifnya terhadap sesuatu sangatlah ketat, dia berhati-hati betul dalam berbicara, dalam bertingkah laku, juga dalam memutuskan segala sesuatu yang terkait dengan dirinya. Karena itu peluang selamatnya menjadi lebih besar.

Keempat, Yaqin.

Imam qusyairi menyebutkan, yaqin itu adalah ketetapan ilmu yang tidak berputar putar dan tidak terombang ambing serta tidak berubah rubah dalam hati. Nabi saw bersabda “Yang sangat aku takuti terhadap umatku adalah lemahnya keyakinan mereka”.

Dalam kehidupan ini seseorang harus bersikap optimis kendati perjalanan hidup tidak selamanya manis. Tidak ada satupun yang tidak bisa diraih, tetapi syaratnya jangan ragu, sebab keraguan hanya menunjukkan bahwa tekad kita belum maksimal, tak ada kebaikan dalam keraguan, yaqinlah dengan seyaqin-yaqinnya bahwa Allah kuasa mengabulkan hajat hambanya, dengan keyaqinan yang mustahil akan bisa menjadi kenyataan, tetapi tanpa keyaqinan, kepastian akan menjadi sirna.

Allah itu sesuai prasangka hambanya, bila kita yaqin bahwa Allah akan menolong kita, maka Allah benar-benar akan menolong kita, bila kita yaqin bahwa Allah mengabulkan doa kita, maka Allah benar-benar akan mengabulkan doa kita.

Bila seseorang mengingat Allah, maka Allah akan mengingatnya, bila seseorang mencintai Allah, maka Allah akan mencintainya, bila seseorang memohon perlindungan, maka Allah akan melindunginya, bila seseorang mendekat kepadaNya sejengkal, Allah akan mendekatinya sehasta, bila seseorang mendekat kepadaNya sehasta, Allah akan mendekatinya sedepa, bila seseorang mendekat kepadaNya dengan berjalan, Allah akan mendekatinya dengan berlari.

Dalam Qs ali Imran ayat 133 –136 disebutkan “….. orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik dalam keadaan lapang atau sempit, dan orang-orang yang menahan marah dan suka memaafkan kesalahan orang lain, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji dan menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, … dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu ……., balasan mereka adalah ampunan dari Tuhan mereka dan sorga ……… mereka kekal didalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang yang beramal”.

Dari ayat diatas jelas sekali bahwa kiat yang perlu dilakukan untuk menjadi muttaqin antara lain adalah :

Pertama, Bersegera menuju ampunan Allah.

Perlu disadari bahwa hidup didunia ini sangatlah singkat, dan setiap saat seiring dengan perjalanan waktu, kontrak kita di dunia inipun terus berkurang, maka manfaatkan waktu yang tersedia dengan sebaiknya baiknya.

Ketika Allah menggunakan kata-kata ” bersegeralah !, Artinya kita disuruh cepat-cepat menuju ampunan Allah agar tidak terlambat, sebab waktu yang tersedia amatlah singkat, jadi kita mesti bersegera sebelum kesempatan itu keburu habis dan berakhir.

Kedua, Menafkahkan harta dalam keadaan lapang atau sempit

Orang yang gemar berinfak dijalan Allah biasanya di sebut dermawan, Dalam sebuah hadits disebutkan “Allah tidak menarik para kekasihnya kecuali atas dasar kedermawanan dan akhlak yang baik” (Hr. Ibnu Hibban). Dalam riwayat lain disebutkan “Sesungguhnya Allah menolakkan bencana kerena kehadiran kaum dermawan, karena merekalah manusia mendapat curahan hujan dan karena merekalah manusia ditolong Allah”.

Dalam pandangan Islam orang yang gemar berinfak untuk agama dan kemanusiaan tidaklah menjadikan yang bersangkutan jatuh miskin, malah sebaliknya Allah akan menggantinya dengan berlipat ganda.

 

Ditegaskan dalam QS.2 : 265 bahwa “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat.

Bahkan Allah menganjurkan orang orang yang berada dalam kesempitan, hendaklah berinfaq agar dibebaskan dari kesempitan yang dideritanya, ditegaskan dalam Qs.65 : 7 “Dan orang orang yang disempitkan rizkinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadaNya. ……. Allah akan memberikan kelapangan setelah kesempitan” .

Ketiga, Menahan marah.

Sifat pemarah, tempramental dan emosional adalah salah satu penyakit hati. Imam Alghazali menegaskan ketika seseorang sedang marah, hati yang bersangkutan akan memanas bagai api yang membara, makin tinggi marahnya makin tinggi pula derajat panasnya hati sehingga sangat berbahaya. Dan dalam kondisi seperti itu syetan juga ikut mengipasinya sehingga panas hati memuncak dan membakar segalanya .

Dalam sebuah hadits disebutkan “Seorang sahabat berkata kepada Nabi saw, Ya Rasululloh, berpesanlah kepada kami, agar kami memperoleh keselamatan, lalu Nabi berpesan “jangan suka marah” sahabat itu bertanya berulang ulang dan nabi tetap berulang ulang menjawab “jangan suka marah” (Hr. Buhari). Dalam riwayat lain Rasul saw bersabda “Orang yang kuat itu bukanlah orang yang kuat bergulat, tetapi sebenarnya orang kuat itu adalah yang mampu menahan amarah” (Hr Muttafaq alaih).

Orang yang mampu menahan marah, berarti mampu mengendalikan hawa nafsu dan mengalahkan syetan, karena itu, ia merupakan salah satu karakter dari orang yang taqwa.

 

Keempat, Memaafkan kesalahan orang lain

Rsululloh saw bersabda ” Barang siapa memaafkan saat dia mampu membalas maka Allah akan memberinya maaf pada hari kesulitan”. (Hr. Tabrani)

Alangkah indahnya jika budaya memaafkan kita jadikan sebagai pola hidup, memaafkan yang bukan saja karena orang lain bersalah, melainkan menjadi sikap hidup itu sendiri, sebab betapa malunya kita dihadapan Allah kalau sampai kita tidak punya sifat pemaaf sementara Allah sendiri begitu sangat pemurah dan pemaaf.

Kelima, Berbuat baik pada orang lain

Suka berbuat baik, menurut alqur’an merupakan suatu keberuntungan yang besar, sebagaimana ditegaskan dalam Qs. 41 : 35 “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.

Dalam sebuah hadits disebutkan “Barang siapa berbuat baik pada orang lain, Allah akan berbuat baik kepadanya, siapa yang membantu kesulitan orang lain, Allah akan membantu kesulitannya di hari kiamat dan siapa yang menutup aib orang lain maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan aherat (Hr. Muslim).

Alhasil, bila kita ingin mendapat kecintaan Allah, maka cintailah Allah ! dan tirulah akhlakNya !, bila Allah sumber kebaikan, maka kita harus suka berbuat baik, bila Allah maha penolong, kita juga mesti jadi penolong, bila Allah maha pengasih maka kita juga jangan kikir, demikian seterusnya. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan, sesungguhnya Allah mencintai orang yang berbuat baik.

Keenam, Apabila berbuat salah langsung bertobat kepada Allah dan tidak mengulangi kembali kesalahannya

    Orang yang baik itu bukan orang yang tidak pernah bersalah, tetapi yang segera menyadari kesalahannya dan segera bertobat kepadaNya. Dalam hadits nabi ditegaskan ” Seorang masuk sorga bukan karena amalnya, tetapi karena kasih sayang (rahmat) Allah ta’ala.” (Hr. Muslim)

Hadits diatas menunjukkan bahwa kasih sayang Allah jauh lebih besar dari adzabNya, ampunan Allah jauh lebih besar dari murkaNya. Sesungguhnya jika Allah betul-betul menerapkan keadilanNya, rasanya sedikit sekali manusia yang bakal masuk sorga. Ada hadits yang menyatakan “Tidak akan pernah masuk sorga seseorang yang dalam hatinya ada rasa takabbur walau sebesar debu”, realitasnya takabbur kita bukan sebesar debu tapi sebesar gunung, padahal sebesar debu saja diharamkan masuk sorga.

Ada pula hadits yang menyebutkan “Barang siapa memasukkan sesuap makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal kebaikannya selama 40 hari”. Bila sesuap saja akan tertolak amal kebaikannya selama 40 hari, lalu berapa hari jika yang masuk ke perutnya dua milyar suap ? Jika memperhatikan hadits hadits itu, rasanya kita semua akan masuk neraka.

Jika Allah dengan keadilannya membalas kita dengan balasan setimpal atau mempertimbangkan semua amal kita, maka celakalah kita, sebab kalau kita mengandalkan amal baik kita, tentu sangat tidak cukup, Tetapi Rahmat Allah sungguh sangat luas dan tak terkirakan, dinyatakan dalam sebuah hadits qudsi : RahmatKu mendahului murkaKu (Hr. Muslim)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.